Monday, December 10, 2018

Mick Jagger Masih Sanggup 2 Jam!

MICK JAGGER "SAYA MASIH SANGGUP 2 JAM LAGI". Ditemui disebuah studio di pinggiran kota London,Mick Jagger membenarkan rencana tour show keliling Amerika pada p[ertengahan thn 2019."Tepatnya The Rolling Stones akan memulai konsernya di Hard Rock Stadium,Miami.Florida.Selanjutnya di Jacksonville Floria,pada tgl 24 April'19.Sebelum kami ke Dallas,Texas,tgl 28 April'19". Jagger menambahkan ia telah memilih beberapa kota yang bakal dikunjungi The Rolling Stones."Salah satunya Phoenix,kota yang paling mengasyikan dengan penonton yang spontanitas". Menurut Keith Richard,lawatan tour show ke Amerika nanti,merupakan konser perpisahan The Rolling Stones.Bagaimana menurut anda? _ "Saya juga dengar Keff bicara di beberapa surat kabar.tapi dia sendiri belum pernah membahas soal itu.Gak ada masalah kalau dia mau pensiun,saya sendiri masih sanggup nyanyi 2 jam lagi.saya kurang yakin dia mau tinggalkan pekerjaannya yang bertumpuk di The Rolling Stones". Keff juga kasih tahu bahwa The Rolling Stones mau merilis album baru. - "Memang betul,kami berdua sudah lama membuat lagu2.Tinggal dipilih mana yang cock untuk direkam duluan,seingat saya ada 33 lagu baru". Liburan Natal & Tahun ada rencana kemana? - "Seperti biasa setiap tahun,saya selalu berkumpul dengan anak cucu.Maunya ke Bali,anak2 saya belum pernah ke pulau yang paling eksotis diseluruh dunia.Kalau dadakan perginya juga gak masalah,karena ada teman yang meminjamkan villa-nya.Rencananya minggu depan sudah di putuskan mau ke Bali atau Brasilia". source status fb Buyunk Aktuil

Sunday, December 9, 2018

Reza Artamevia

PERTEMUAN DENGAN REZA ARTAMEVIA – “Saya sudah menunggu 20 tahun untuk ini, “ bisik saya pada Reza Artamevia. Dia menatap wajah saya dengan terkejut. “Dua puluh tahun? Memangnya selama ini kemana saja? “ tanyanya. Saya tersenyum, tak tahu musti ngomong apa. Setiap kali ketemu artis yang saya kagumi, mendadak ‘mati gaya’. Lalu kami pose bareng. ‘Selfie’, eh 'Welfie'. Buru buru, rebutan sama fans, ibu ibu muda yang antre. Tapi moment itu sangat mengesankan. Hari itu, sebulan lalu, Reza hadir sebagai salahsatu penampil Maumere Jazz Fiesta Festival 2018. Bersama Andien dan Glenn Fedly. “Saya bawa band sendiri, tampil full satu jam, “ katanya. Puji Tuhan, Alhamdulillah - dia sudah bangkit lagi. Jadi idola saya lagi . Terakhir saya melihat dia tampil di Balai Kartini - Jakarta, nyanyi bersama Gatot Bradjamusti. Mengisi slot yang tidak disiarkan dalam acara puncak Festival Film Usmar Ismail Award 2017. Jujur saat itu, hati saya perih sekali. Sekelas Reza Artamevia yang pernah berpasangan dengan penyanyi senior asal Jepang, Masaki Ueda di lagu ‘Biar Menjadi Kenangan’ - duet nyanyi dengan Gatot, yang entah siapa dia di dunia nyanyi? Saya jatuh cinta pada Reza Artamevia sejak ‘Pertama’ di tahun 1997. Maksudnya, sejak dia menyanyikan lagu ‘Pertama’ yang video klipnya fenomenal itu. Suara altonya yang khas terdengar sexy, musiknya pop kreatif. Di video itu, menggesek gesekkan punggungnya ke tembok, sangat indah dan sensual. “ Pertama, kurasakan getaran / yang kerap goyahkan rasa / Serasa ada sentuhan baru / Sinari hari hariku “ Saya juga suka cover kasetnya dengan wajahnya dan rambutnya yang basah, seperti habis keramas. Lagu ‘Pertama’ milik Reza berhasil menduduki no 1 tangga-tangga lagu di Indonesia dan menjadi hits fenomenal di saat kemunculan pertamanya di tahun 1997. Album inilah yang memberikan banyak penghargaan bergengsi Anugerah Musik Indonesia (AMI), MTV dan sekaligus melambungkan namanya di belantika musik indonesia bahkan memberinya predikat “penyanyi wanita terseksi”. Tercatat album ‘Keajaiban’ terjual hingga lebih dari 100 ribu copy, jumlah mana untuk pendatang baru merupakan prestasi tersendiri buat Reza - karena tahun 1997 Indonesia sedang mengalami Krisis Moneter dan daya beli masyarakat waktu itu sedang menurun. Kolaborasi Reza bersama penyanyi solo Masaki Ueda menjadi ‘first single’ semakin memantapkan posisi Reza Artamevia di jajaran penyanyi papan atas Indonesia. Reza juga mendaur ulang lagu milik Dewa 19 berjudul ‘Cinta 'Kan Membawamu Kembali’ dan lagu milik penyanyi Malaysia Famieza berjudul "Getaran". Tembang ‘Aku Wanita’ juga menjadi lagu andalan dalam album ke-2 ini. Album ini sukses ganda baik di blantika musik pop Indonesia maupun di mancanegara. Tercatat angka penjualan mencapai lebih dari 300 ribu eksemplar di Indonesia dan di luar negeri juga mendapat royalti penjualan album. Oleh Asian Music Standard yang bermarkas di Tokyo, album ‘Keabadian’ diterjemahkan dalam versi bahasa Inggris dan dirilis di Jepang dalam title ‘Amazing’. Pada Album Masaki Ueda yang berjudul ‘Hand of Time’ memuat lagu ‘Forever Peace’ yang dinyanyikan bersama Reza (Lagu ‘Biar Menjadi Kenangan’ ciptaan Ahmad Dhani yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang) kemudian terpilih menjadi Tema Balap Formula 1 di Jepang dan Korea. SEMUA yang saya sampaikan hanya untuk menjelaskan bahwa Reza Artamevia adalah penyanyi berkelas, dan ketika tampil di atas panggung dia seorang Diva sesungguhnya. Sampai tragedi keluarga menimpanya. Bagaimana dia bisa jatuh separah itu? Bertemu dengan paranormal yang menghancurkannya pada titik terendah? Tapi, itulah hidup. Thats a life! “ Cintai diriku / seperti aku mencintaimu / Sepenuh jiwaku / Jangan pernah ada/ tersimpan prasangka / Dipelukmu / kuserahkan seluruh hidupku / Dan takkan terbagi / Percayalah, cintaku hanya untukmu “ Saya kira daya tahan setiap orang memang berbeda-beda. Seseorang bisa tangguh menghadapi guncangan, perpisahan dengan pasangan, sementara orang lain tidak. Pada masa galau, panik, kehilangan harapan, pandangan gelap, dia meraih apa saja, ranting, dahan kayu, apa saja yang bisa menjadi pegangan. Dan Reza mendapat pegangan yang salah. Dia pun terus hanyut. Terlelap. Tenggelam beberapa masa. Saya merasakan rintihannya yang pedih, lewat lagunya, ‘Cinta Kita’ : “Mungkinkah kau mencintai diriku/ selama lamanya / Hingga maut memisahkan / Bukan hanya cinta / yang sesaat terus menghilang / Bila hasrat telah usai.” TAPI semua telah berlalu. Saya sangat berbahagia melihat Reza Artameva bangkit kembali. Selalu demikian para motivator memberikan kalimat motivasi, “Bukan soal jatuhnya, Sayangku. Tapi bagaimana bangkitnya! Jatuh delapan kali, bangun sembilan kali! Lanjutkan perjalanan, arungi kehidupan”. Saya tidak bisa ikut meliput konsernya di Maumere, NTT. Hanya melihat rekaman lapoan Maumere Jazz Festival lewat liputan channel ‘Berita Satu’. Saya lihat ketika reporter menanyakan pada warga, siapa artis ibukota yang ditungu tunggu pemunculannya, spontan anak –anak muda di sana berteriak : “ Reza..!!” .Saya hampir meneteskan airmata. Ternyata pesonanya belum pudar. Dan demikianlah ketika Reza tampil, dia mendapat sambutan hangat. Aplous meriah. Setelah sukses tampil di Maumere Jazz Festival, di penghujung tahun 2018, Reza akan tampil di Yogyakarta merayakan pergantian tahun, menyambut 2019. Di hotel bintang lima terbaik di Kota Gudeg ini akan tampil bareng Titi DJ dalam konser bertitel ‘The Best of 2 Divas’ . Bakal digelar di ballrom yang menjanjikan suasana eksklusif dam tata panggung dan pencahayaan berkualitas. Saya selalu kenangkan selalu saat dia menyanyikan ‘Satu yang Tak Bisa Lepas’ : "Kusimpan masa demi masa / Tak mudah 'tuk terlupa / Saat kau masih di sisi / Hingga saat kau dengannya / Kadang ku menangis / . .. .. .. .. ... Satu yang tak bisa lepas / Bawalah kembali jiwa yang luka / Dan perasaan yang lemah ini / Menyentuh sendiriku/ Meski hatiku pun mengerti / sumber: status FB Dimas Supriyanto

Tuesday, December 4, 2018

Ke Monas - Rhoma Irama & Elvie Sukaesih

Ke Monas - Rhoma Irama & Elvie Sukaesih ini adalah lagu irama dangdut yang jadi hit di kala itu disamping tembang hit lain karya Haji Rhoma Irama, Begadang.

MONAS SEBAGAI SIMBOL LINGGA DAN YONI – Tugu Monas mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Bangunan itu memiliki ketinggian 132 meter sebagai modifikasi artefak Lingga dan Yoni.

Presiden Sukarno mendapat inspirasi tersebut dari artefak yang ada di Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah. Bumg Karno menyebut Candi Sukuh merupakan salah satu monumen yang dibangun pada zaman Hindu.

Dalam agama Hindu, Lingga merupakan simbol dari Dewa Shiwa, yang berfungsi sebagi penyalur air pembasuh arca.  Lingga juga merupakan simbolisasi ‘atma’ atau roh. Sedangkan Yoni  simbolisasi ‘shakti’, kekuatan dan kesadaran atma.

Dalam keyakinan Hindu, ada dua bentuk perwujudan Lingga. Pertama, ‘Lingga Cala’ yakni simbol Dewa Shiwa, yang dapat dipindahkan karena bentuknya yang tidak permanen. Contohnya Arca Lingga. Kedua, ‘Lingga Acala’ sebagai tempat hunian bagi Dewa Shiwa, sifatnya permanen sehingga tidak dapat dipindahkan. Gunung adalah tempat pemujaan bagi Sang Hyang Acalapati yang merupakan Dewa Gunung.  Pada masa prasejarah, gunung diyakini sebagi tempat suci, karena kepercayaan akan semakin tinggi - semakin suci.

Pada masa perkembangan Hindu, Yoni merupakan simbol dari Dewi Parvati istri dari Dewa Shiwa. Yoni adalah tumpuan bagi Lingga atau Arca.

Dalam kebudayaan Hindu, seks juga disimbolkan dengan lingga-yoni. Itulah lambang reproduksi lelaki dan perempuan (phallus dan vagina).

Kamus Jawa Kuna - Indonesia mendefinisikan lingga (sankerta) sebagi tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk. Juga lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu. Sedangkan Yoni berarti rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia.

Jika diamati, bentuk Yoni  menyerupai vagina alat kelamin dari wanita, yang merupakan lambang kesuburan pada masa prasejarah.

Maksud wujud lingga yang melakukan penetrasi ke liang yoni adalah kembalinya kesadaran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh ‘maya’, pengaruh ‘prakrti’, pengaruh alam materi.

Oleh sebab itu pemujaan akan Lingga dan Yoni -  yang merupakan bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Parvati -  adalah suatu berkah bagi masyarakat masa lampau, sehingga biasanya lingga-yoni ini diletakkan di wilayah pertanian atau pemujaan para petani kala itu.

Bersatunya Lingga dan Yoni adalah pertemuan antara laki-laki (Purusa) dan wanita (Pradhana) yang merupakan lambang kesuburan, sehingga muncul kehidupan baru (Kelahiran).

Dalam tafsir yang berkembang kemudian, Lingga Yoni tak sebatas sebuah simbolisasi, namun mengandung pesan kehidupan yang sangat luas. Lingga identik  dengan simbol dari energi maskulin, ‘Yang’ atau pria . Seangkan Yoni sebagai simbol dari energi feminin, ‘Yin’ atau wanita.

Jadi Lingga dan Yoni merupakan jalur energi Illahi di tubuh manusia dan di alam semesta.

GAGASAN mendirikan tugu Monas dimulai pada 17 Februari 1955, ketika Presiden Sukarno menggelar sebuah sayembara terbuka tentang desain sebuah tugu yang akan dibangun di Jakarta. Sayembara ditutup pada Mei 1956. Ada 51 arsitek yang mengajukan rancangan, dan hanya satu yang dipilih, yakni karya Frederich Silaban, meski sebenarnya desainnya dinilai tak memenuhi syarat bangunan tugu.

Waktu itu arsitek lulusan Technische Hogeschool ― kini Institut Teknologi Bandungc― yang juga perancang masjid Istiqlal itu menginginkan bangunan tugu yang mencerminkan revolusi serta kepribadian dan cita-cita rakyat Indonesia.

Sayembara kembali dibuka pada 10-15 Mei 1960. Kali ini pesertanya mencapai 222 orang dengan 136 desain bangunan. Sayang, tak ada satu pun yang memenuhi keinginan Sukarno. "(Bangunan) yang mencerminkan hal yang bergerak, yang dinamis dalam satu bentuk daripada materi yang mati,” pesan Sukarno, seperti dikutip dalam buku ‘Bung Karno Sang Arsitek’ karya Yuke Ardhiati.

Presiden Soekarno mengingatkan tugu itu haruslah menunjukan kepribadian bangsa Indonesia, bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan zaman - sedikitnya seribu tahun -  serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.

Akhirnya, rancangan yang diajukan Frederich Silaban diambil alih oleh Sukarno dan Raden Mas Soedarsono untuk dimodifikasi. Kemudian R.M. Soedarsono, merancang monument tersebut dengan memasukkan angka 17, 8, dan juga 45, angka-angka tersebut melambangkan hari kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.

Dan akhirnya monumen peringatan tersebut di bangun pada area seluas 80 hektare, yang diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan juga R.M. Soedarsono, dan mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Hasilnya, jadilah Tugu Monumen Nasional atau Monas seperti yang sekarang ini.

MONAS adalah perlambang Lingga, mewakili maskulinitas sosok ayah yang seorang laki-laki. Monas dibangun di dekat Istana Merdeka sebagai pusat kekuasaan, mewakili sosok eksekutif, yang bekerja keras untuk kebahagiaan rakyat Indonesia sebagai anak-anaknya. Dan di puncak Monas ada nyala api perunggu berlapis emas sebagai simbol 'Dian Yang Tak Kunjung Padam' yang artinya semangat yang selalu menggelora.

Sedangkan Yoni yang mewakili femininitas sosok ibu yang seorang perempuan yang ditampilkan pada Gedung DPR/ MPR. Bangunan itu, dulunya, bernama Gedung 'Conference of New Emerging Force' (Conefo) karena digunakan Soekarno untuk mengumpulkan negara-negara berkembang sebagai reaksi pembentukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Jika diperhatikan baik-baik bentuk bangunan Nusantara DPR/ MPR yang memiliki unsur vagina dan labium mayora-minora. Monas dan Gedung DPR/ MPR adalah perlambang kasih sayang para pemimpin bangsa ini sebagai orang tua untuk seluruh warga negara Indonesia sebagai anak-anak kandungnya.

Penyatuan simbol Lingga dan Yoni – sebagaimana terlihat dalam tampilan Monas - melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan.

Perpaduan Lingga dan Yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan.

Dengan adanya penyatuan dan penciptaan maka ada generasi yang berkelanjutan atau kehidupan yang berkelanjutan.***