Ke Monas - Rhoma Irama & Elvie Sukaesih ini adalah lagu irama dangdut yang jadi hit di kala itu disamping tembang hit lain karya Haji Rhoma Irama, Begadang.
MONAS SEBAGAI SIMBOL LINGGA DAN YONI – Tugu Monas mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Bangunan itu memiliki ketinggian 132 meter sebagai modifikasi artefak Lingga dan Yoni.
Presiden Sukarno mendapat inspirasi tersebut dari artefak yang ada di Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah. Bumg Karno menyebut Candi Sukuh merupakan salah satu monumen yang dibangun pada zaman Hindu.
Dalam agama Hindu, Lingga merupakan simbol dari Dewa Shiwa, yang berfungsi sebagi penyalur air pembasuh arca. Lingga juga merupakan simbolisasi ‘atma’ atau roh. Sedangkan Yoni simbolisasi ‘shakti’, kekuatan dan kesadaran atma.
Dalam keyakinan Hindu, ada dua bentuk perwujudan Lingga. Pertama, ‘Lingga Cala’ yakni simbol Dewa Shiwa, yang dapat dipindahkan karena bentuknya yang tidak permanen. Contohnya Arca Lingga. Kedua, ‘Lingga Acala’ sebagai tempat hunian bagi Dewa Shiwa, sifatnya permanen sehingga tidak dapat dipindahkan. Gunung adalah tempat pemujaan bagi Sang Hyang Acalapati yang merupakan Dewa Gunung. Pada masa prasejarah, gunung diyakini sebagi tempat suci, karena kepercayaan akan semakin tinggi - semakin suci.
Pada masa perkembangan Hindu, Yoni merupakan simbol dari Dewi Parvati istri dari Dewa Shiwa. Yoni adalah tumpuan bagi Lingga atau Arca.
Dalam kebudayaan Hindu, seks juga disimbolkan dengan lingga-yoni. Itulah lambang reproduksi lelaki dan perempuan (phallus dan vagina).
Kamus Jawa Kuna - Indonesia mendefinisikan lingga (sankerta) sebagi tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk. Juga lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu. Sedangkan Yoni berarti rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia.
Jika diamati, bentuk Yoni menyerupai vagina alat kelamin dari wanita, yang merupakan lambang kesuburan pada masa prasejarah.
Maksud wujud lingga yang melakukan penetrasi ke liang yoni adalah kembalinya kesadaran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh ‘maya’, pengaruh ‘prakrti’, pengaruh alam materi.
Oleh sebab itu pemujaan akan Lingga dan Yoni - yang merupakan bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Parvati - adalah suatu berkah bagi masyarakat masa lampau, sehingga biasanya lingga-yoni ini diletakkan di wilayah pertanian atau pemujaan para petani kala itu.
Bersatunya Lingga dan Yoni adalah pertemuan antara laki-laki (Purusa) dan wanita (Pradhana) yang merupakan lambang kesuburan, sehingga muncul kehidupan baru (Kelahiran).
Dalam tafsir yang berkembang kemudian, Lingga Yoni tak sebatas sebuah simbolisasi, namun mengandung pesan kehidupan yang sangat luas. Lingga identik dengan simbol dari energi maskulin, ‘Yang’ atau pria . Seangkan Yoni sebagai simbol dari energi feminin, ‘Yin’ atau wanita.
Jadi Lingga dan Yoni merupakan jalur energi Illahi di tubuh manusia dan di alam semesta.
GAGASAN mendirikan tugu Monas dimulai pada 17 Februari 1955, ketika Presiden Sukarno menggelar sebuah sayembara terbuka tentang desain sebuah tugu yang akan dibangun di Jakarta. Sayembara ditutup pada Mei 1956. Ada 51 arsitek yang mengajukan rancangan, dan hanya satu yang dipilih, yakni karya Frederich Silaban, meski sebenarnya desainnya dinilai tak memenuhi syarat bangunan tugu.
Waktu itu arsitek lulusan Technische Hogeschool ― kini Institut Teknologi Bandungc― yang juga perancang masjid Istiqlal itu menginginkan bangunan tugu yang mencerminkan revolusi serta kepribadian dan cita-cita rakyat Indonesia.
Sayembara kembali dibuka pada 10-15 Mei 1960. Kali ini pesertanya mencapai 222 orang dengan 136 desain bangunan. Sayang, tak ada satu pun yang memenuhi keinginan Sukarno. "(Bangunan) yang mencerminkan hal yang bergerak, yang dinamis dalam satu bentuk daripada materi yang mati,” pesan Sukarno, seperti dikutip dalam buku ‘Bung Karno Sang Arsitek’ karya Yuke Ardhiati.
Presiden Soekarno mengingatkan tugu itu haruslah menunjukan kepribadian bangsa Indonesia, bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan zaman - sedikitnya seribu tahun - serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.
Akhirnya, rancangan yang diajukan Frederich Silaban diambil alih oleh Sukarno dan Raden Mas Soedarsono untuk dimodifikasi. Kemudian R.M. Soedarsono, merancang monument tersebut dengan memasukkan angka 17, 8, dan juga 45, angka-angka tersebut melambangkan hari kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.
Dan akhirnya monumen peringatan tersebut di bangun pada area seluas 80 hektare, yang diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan juga R.M. Soedarsono, dan mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Hasilnya, jadilah Tugu Monumen Nasional atau Monas seperti yang sekarang ini.
MONAS adalah perlambang Lingga, mewakili maskulinitas sosok ayah yang seorang laki-laki. Monas dibangun di dekat Istana Merdeka sebagai pusat kekuasaan, mewakili sosok eksekutif, yang bekerja keras untuk kebahagiaan rakyat Indonesia sebagai anak-anaknya. Dan di puncak Monas ada nyala api perunggu berlapis emas sebagai simbol 'Dian Yang Tak Kunjung Padam' yang artinya semangat yang selalu menggelora.
Sedangkan Yoni yang mewakili femininitas sosok ibu yang seorang perempuan yang ditampilkan pada Gedung DPR/ MPR. Bangunan itu, dulunya, bernama Gedung 'Conference of New Emerging Force' (Conefo) karena digunakan Soekarno untuk mengumpulkan negara-negara berkembang sebagai reaksi pembentukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
Jika diperhatikan baik-baik bentuk bangunan Nusantara DPR/ MPR yang memiliki unsur vagina dan labium mayora-minora. Monas dan Gedung DPR/ MPR adalah perlambang kasih sayang para pemimpin bangsa ini sebagai orang tua untuk seluruh warga negara Indonesia sebagai anak-anak kandungnya.
Penyatuan simbol Lingga dan Yoni – sebagaimana terlihat dalam tampilan Monas - melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan.
Perpaduan Lingga dan Yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan.
Dengan adanya penyatuan dan penciptaan maka ada generasi yang berkelanjutan atau kehidupan yang berkelanjutan.***
No comments:
Post a Comment