PERTEMUAN DENGAN REZA ARTAMEVIA – “Saya sudah menunggu 20 tahun untuk ini, “ bisik saya pada Reza Artamevia. Dia menatap wajah saya dengan terkejut. “Dua puluh tahun? Memangnya selama ini kemana saja? “ tanyanya.
Saya tersenyum, tak tahu musti ngomong apa. Setiap kali ketemu artis yang saya kagumi, mendadak ‘mati gaya’. Lalu kami pose bareng. ‘Selfie’, eh 'Welfie'. Buru buru, rebutan sama fans, ibu ibu muda yang antre. Tapi moment itu sangat mengesankan.
Hari itu, sebulan lalu, Reza hadir sebagai salahsatu penampil Maumere Jazz Fiesta Festival 2018. Bersama Andien dan Glenn Fedly. “Saya bawa band sendiri, tampil full satu jam, “ katanya.
Puji Tuhan, Alhamdulillah - dia sudah bangkit lagi. Jadi idola saya lagi .
Terakhir saya melihat dia tampil di Balai Kartini - Jakarta, nyanyi bersama Gatot Bradjamusti. Mengisi slot yang tidak disiarkan dalam acara puncak Festival Film Usmar Ismail Award 2017. Jujur saat itu, hati saya perih sekali. Sekelas Reza Artamevia yang pernah berpasangan dengan penyanyi senior asal Jepang, Masaki Ueda di lagu ‘Biar Menjadi Kenangan’ - duet nyanyi dengan Gatot, yang entah siapa dia di dunia nyanyi?
Saya jatuh cinta pada Reza Artamevia sejak ‘Pertama’ di tahun 1997. Maksudnya, sejak dia menyanyikan lagu ‘Pertama’ yang video klipnya fenomenal itu. Suara altonya yang khas terdengar sexy, musiknya pop kreatif. Di video itu, menggesek gesekkan punggungnya ke tembok, sangat indah dan sensual.
“ Pertama, kurasakan getaran /
yang kerap goyahkan rasa /
Serasa ada sentuhan baru /
Sinari hari hariku “
Saya juga suka cover kasetnya dengan wajahnya dan rambutnya yang basah, seperti habis keramas.
Lagu ‘Pertama’ milik Reza berhasil menduduki no 1 tangga-tangga lagu di Indonesia dan menjadi hits fenomenal di saat kemunculan pertamanya di tahun 1997. Album inilah yang memberikan banyak penghargaan bergengsi Anugerah Musik Indonesia (AMI), MTV dan sekaligus melambungkan namanya di belantika musik indonesia bahkan memberinya predikat “penyanyi wanita terseksi”.
Tercatat album ‘Keajaiban’ terjual hingga lebih dari 100 ribu copy, jumlah mana untuk pendatang baru merupakan prestasi tersendiri buat Reza - karena tahun 1997 Indonesia sedang mengalami Krisis Moneter dan daya beli masyarakat waktu itu sedang menurun.
Kolaborasi Reza bersama penyanyi solo Masaki Ueda menjadi ‘first single’ semakin memantapkan posisi Reza Artamevia di jajaran penyanyi papan atas Indonesia. Reza juga mendaur ulang lagu milik Dewa 19 berjudul ‘Cinta 'Kan Membawamu Kembali’ dan lagu milik penyanyi Malaysia Famieza berjudul "Getaran".
Tembang ‘Aku Wanita’ juga menjadi lagu andalan dalam album ke-2 ini. Album ini sukses ganda baik di blantika musik pop Indonesia maupun di mancanegara. Tercatat angka penjualan mencapai lebih dari 300 ribu eksemplar di Indonesia dan di luar negeri juga mendapat royalti penjualan album.
Oleh Asian Music Standard yang bermarkas di Tokyo, album ‘Keabadian’ diterjemahkan dalam versi bahasa Inggris dan dirilis di Jepang dalam title ‘Amazing’.
Pada Album Masaki Ueda yang berjudul ‘Hand of Time’ memuat lagu ‘Forever Peace’ yang dinyanyikan bersama Reza (Lagu ‘Biar Menjadi Kenangan’ ciptaan Ahmad Dhani yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang) kemudian terpilih menjadi Tema Balap Formula 1 di Jepang dan Korea.
SEMUA yang saya sampaikan hanya untuk menjelaskan bahwa Reza Artamevia adalah penyanyi berkelas, dan ketika tampil di atas panggung dia seorang Diva sesungguhnya.
Sampai tragedi keluarga menimpanya.
Bagaimana dia bisa jatuh separah itu? Bertemu dengan paranormal yang menghancurkannya pada titik terendah? Tapi, itulah hidup. Thats a life!
“ Cintai diriku /
seperti aku mencintaimu /
Sepenuh jiwaku /
Jangan pernah ada/
tersimpan prasangka /
Dipelukmu /
kuserahkan seluruh hidupku /
Dan takkan terbagi /
Percayalah, cintaku hanya untukmu “
Saya kira daya tahan setiap orang memang berbeda-beda. Seseorang bisa tangguh menghadapi guncangan, perpisahan dengan pasangan, sementara orang lain tidak. Pada masa galau, panik, kehilangan harapan, pandangan gelap, dia meraih apa saja, ranting, dahan kayu, apa saja yang bisa menjadi pegangan. Dan Reza mendapat pegangan yang salah. Dia pun terus hanyut. Terlelap. Tenggelam beberapa masa.
Saya merasakan rintihannya yang pedih, lewat lagunya, ‘Cinta Kita’ :
“Mungkinkah kau mencintai diriku/
selama lamanya /
Hingga maut memisahkan /
Bukan hanya cinta /
yang sesaat terus menghilang /
Bila hasrat telah usai.”
TAPI semua telah berlalu. Saya sangat berbahagia melihat Reza Artameva bangkit kembali. Selalu demikian para motivator memberikan kalimat motivasi, “Bukan soal jatuhnya, Sayangku. Tapi bagaimana bangkitnya! Jatuh delapan kali, bangun sembilan kali! Lanjutkan perjalanan, arungi kehidupan”.
Saya tidak bisa ikut meliput konsernya di Maumere, NTT. Hanya melihat rekaman lapoan Maumere Jazz Festival lewat liputan channel ‘Berita Satu’. Saya lihat ketika reporter menanyakan pada warga, siapa artis ibukota yang ditungu tunggu pemunculannya, spontan anak –anak muda di sana berteriak : “ Reza..!!” .Saya hampir meneteskan airmata. Ternyata pesonanya belum pudar. Dan demikianlah ketika Reza tampil, dia mendapat sambutan hangat. Aplous meriah.
Setelah sukses tampil di Maumere Jazz Festival, di penghujung tahun 2018, Reza akan tampil di Yogyakarta merayakan pergantian tahun, menyambut 2019.
Di hotel bintang lima terbaik di Kota Gudeg ini akan tampil bareng Titi DJ dalam konser bertitel ‘The Best of 2 Divas’ . Bakal digelar di ballrom yang menjanjikan suasana eksklusif dam tata panggung dan pencahayaan berkualitas.
Saya selalu kenangkan selalu saat dia menyanyikan ‘Satu yang Tak Bisa Lepas’ :
"Kusimpan masa demi masa /
Tak mudah 'tuk terlupa /
Saat kau masih di sisi /
Hingga saat kau dengannya /
Kadang ku menangis /
. .. .. .. .. ...
Satu yang tak bisa lepas /
Bawalah kembali jiwa yang luka /
Dan perasaan yang lemah ini /
Menyentuh sendiriku/
Meski hatiku pun mengerti /
sumber: status FB Dimas Supriyanto
Sunday, December 9, 2018
Reza Artamevia
PERTEMUAN DENGAN REZA ARTAMEVIA – “Saya sudah menunggu 20 tahun untuk ini, “ bisik saya pada Reza Artamevia. Dia menatap wajah saya dengan terkejut. “Dua puluh tahun? Memangnya selama ini kemana saja? “ tanyanya.
Saya tersenyum, tak tahu musti ngomong apa. Setiap kali ketemu artis yang saya kagumi, mendadak ‘mati gaya’. Lalu kami pose bareng. ‘Selfie’, eh 'Welfie'. Buru buru, rebutan sama fans, ibu ibu muda yang antre. Tapi moment itu sangat mengesankan.
Hari itu, sebulan lalu, Reza hadir sebagai salahsatu penampil Maumere Jazz Fiesta Festival 2018. Bersama Andien dan Glenn Fedly. “Saya bawa band sendiri, tampil full satu jam, “ katanya.
Puji Tuhan, Alhamdulillah - dia sudah bangkit lagi. Jadi idola saya lagi .
Terakhir saya melihat dia tampil di Balai Kartini - Jakarta, nyanyi bersama Gatot Bradjamusti. Mengisi slot yang tidak disiarkan dalam acara puncak Festival Film Usmar Ismail Award 2017. Jujur saat itu, hati saya perih sekali. Sekelas Reza Artamevia yang pernah berpasangan dengan penyanyi senior asal Jepang, Masaki Ueda di lagu ‘Biar Menjadi Kenangan’ - duet nyanyi dengan Gatot, yang entah siapa dia di dunia nyanyi?
Saya jatuh cinta pada Reza Artamevia sejak ‘Pertama’ di tahun 1997. Maksudnya, sejak dia menyanyikan lagu ‘Pertama’ yang video klipnya fenomenal itu. Suara altonya yang khas terdengar sexy, musiknya pop kreatif. Di video itu, menggesek gesekkan punggungnya ke tembok, sangat indah dan sensual.
“ Pertama, kurasakan getaran /
yang kerap goyahkan rasa /
Serasa ada sentuhan baru /
Sinari hari hariku “
Saya juga suka cover kasetnya dengan wajahnya dan rambutnya yang basah, seperti habis keramas.
Lagu ‘Pertama’ milik Reza berhasil menduduki no 1 tangga-tangga lagu di Indonesia dan menjadi hits fenomenal di saat kemunculan pertamanya di tahun 1997. Album inilah yang memberikan banyak penghargaan bergengsi Anugerah Musik Indonesia (AMI), MTV dan sekaligus melambungkan namanya di belantika musik indonesia bahkan memberinya predikat “penyanyi wanita terseksi”.
Tercatat album ‘Keajaiban’ terjual hingga lebih dari 100 ribu copy, jumlah mana untuk pendatang baru merupakan prestasi tersendiri buat Reza - karena tahun 1997 Indonesia sedang mengalami Krisis Moneter dan daya beli masyarakat waktu itu sedang menurun.
Kolaborasi Reza bersama penyanyi solo Masaki Ueda menjadi ‘first single’ semakin memantapkan posisi Reza Artamevia di jajaran penyanyi papan atas Indonesia. Reza juga mendaur ulang lagu milik Dewa 19 berjudul ‘Cinta 'Kan Membawamu Kembali’ dan lagu milik penyanyi Malaysia Famieza berjudul "Getaran".
Tembang ‘Aku Wanita’ juga menjadi lagu andalan dalam album ke-2 ini. Album ini sukses ganda baik di blantika musik pop Indonesia maupun di mancanegara. Tercatat angka penjualan mencapai lebih dari 300 ribu eksemplar di Indonesia dan di luar negeri juga mendapat royalti penjualan album.
Oleh Asian Music Standard yang bermarkas di Tokyo, album ‘Keabadian’ diterjemahkan dalam versi bahasa Inggris dan dirilis di Jepang dalam title ‘Amazing’.
Pada Album Masaki Ueda yang berjudul ‘Hand of Time’ memuat lagu ‘Forever Peace’ yang dinyanyikan bersama Reza (Lagu ‘Biar Menjadi Kenangan’ ciptaan Ahmad Dhani yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang) kemudian terpilih menjadi Tema Balap Formula 1 di Jepang dan Korea.
SEMUA yang saya sampaikan hanya untuk menjelaskan bahwa Reza Artamevia adalah penyanyi berkelas, dan ketika tampil di atas panggung dia seorang Diva sesungguhnya.
Sampai tragedi keluarga menimpanya.
Bagaimana dia bisa jatuh separah itu? Bertemu dengan paranormal yang menghancurkannya pada titik terendah? Tapi, itulah hidup. Thats a life!
“ Cintai diriku /
seperti aku mencintaimu /
Sepenuh jiwaku /
Jangan pernah ada/
tersimpan prasangka /
Dipelukmu /
kuserahkan seluruh hidupku /
Dan takkan terbagi /
Percayalah, cintaku hanya untukmu “
Saya kira daya tahan setiap orang memang berbeda-beda. Seseorang bisa tangguh menghadapi guncangan, perpisahan dengan pasangan, sementara orang lain tidak. Pada masa galau, panik, kehilangan harapan, pandangan gelap, dia meraih apa saja, ranting, dahan kayu, apa saja yang bisa menjadi pegangan. Dan Reza mendapat pegangan yang salah. Dia pun terus hanyut. Terlelap. Tenggelam beberapa masa.
Saya merasakan rintihannya yang pedih, lewat lagunya, ‘Cinta Kita’ :
“Mungkinkah kau mencintai diriku/
selama lamanya /
Hingga maut memisahkan /
Bukan hanya cinta /
yang sesaat terus menghilang /
Bila hasrat telah usai.”
TAPI semua telah berlalu. Saya sangat berbahagia melihat Reza Artameva bangkit kembali. Selalu demikian para motivator memberikan kalimat motivasi, “Bukan soal jatuhnya, Sayangku. Tapi bagaimana bangkitnya! Jatuh delapan kali, bangun sembilan kali! Lanjutkan perjalanan, arungi kehidupan”.
Saya tidak bisa ikut meliput konsernya di Maumere, NTT. Hanya melihat rekaman lapoan Maumere Jazz Festival lewat liputan channel ‘Berita Satu’. Saya lihat ketika reporter menanyakan pada warga, siapa artis ibukota yang ditungu tunggu pemunculannya, spontan anak –anak muda di sana berteriak : “ Reza..!!” .Saya hampir meneteskan airmata. Ternyata pesonanya belum pudar. Dan demikianlah ketika Reza tampil, dia mendapat sambutan hangat. Aplous meriah.
Setelah sukses tampil di Maumere Jazz Festival, di penghujung tahun 2018, Reza akan tampil di Yogyakarta merayakan pergantian tahun, menyambut 2019.
Di hotel bintang lima terbaik di Kota Gudeg ini akan tampil bareng Titi DJ dalam konser bertitel ‘The Best of 2 Divas’ . Bakal digelar di ballrom yang menjanjikan suasana eksklusif dam tata panggung dan pencahayaan berkualitas.
Saya selalu kenangkan selalu saat dia menyanyikan ‘Satu yang Tak Bisa Lepas’ :
"Kusimpan masa demi masa /
Tak mudah 'tuk terlupa /
Saat kau masih di sisi /
Hingga saat kau dengannya /
Kadang ku menangis /
. .. .. .. .. ...
Satu yang tak bisa lepas /
Bawalah kembali jiwa yang luka /
Dan perasaan yang lemah ini /
Menyentuh sendiriku/
Meski hatiku pun mengerti /
sumber: status FB Dimas Supriyanto
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment